Profil Pekon

Sejarah Pekon Gisting Bawah

A. BERDIRINYA PEKON GISTING BAWAH

Berdasarkan informasi dan data-data yang terkumpul dari para sesepuh desa dan tokoh-tokoh masyarakat desa Gisting Bawah, akhirnya dapat kami susun sejarah singkat Desa Gisting Bawah ini dalam keadaan yang sangat saderhana, namun mudah-mudahan dapat bermanfaat semua pihak yang memerlukan.

Adapun sejarah Desa Gisting Bawah ini dikumpulkan berdasarkann hasil penjelasan para sesepuh Desa dan tokoh-tokoh masyarakat Desa Gisting Bawah antara lain :

1. Bapak Dulkariem (Almarhum).

2. Bapak Anomrejo (Almarhum).

3. Bapak Amad Jait(Almarhum).

4. Bapak Wongsomun(Almarhum).

5. Bapak Adolf Kloer (Almarhum)

Untuk memastikan asal nama Gisting kami belum dapat menentukan secara pasti yang sebenarnya, namun disini hanya dapat menguraikan apa yang kami dengar dari cerita dari tokoh-tokoh, sesepu Desa dan dari berbagi sumber, kemudian kami simpulkan sebagai berikut:

Gisting ? Suatu nama yang terdengar sanget aneh di telinga. Dalam bahasa Indonesia rasanya tidak ada kata ini. Setahu saya, dalam bahasa Jawa pun tidak ada kata ini. Dari mana kata ini muncul ? Hal ini yang membuat saya penasaran. Saya tanya orang-orang di sekitar saya, dan mereka tidak tahu. Termasuk Bapak saya yang tinggal cukup lama di desa ini. Kemudian saya coba tanyakan kepada penasehat spiritual saya, mBah Google . Beliau memberikan jawaban yang menurut saya masuk akal. Pertama, Gisting berasal dari bahasa Belanda yang berarti “fermentasi”. Trus apa hubungan nya dengan desa ini.? Rasakan kok tidak ‘match’. Kedua, Gisting berasal dari bahasa Islandia yang berarti “penginapan malam”, “pondokan malam”, atau “tumpangan malam”. Kembali lagi apa hubungan dengan nama desa ini ?

Sangat mungkin daerah ini, dulu menjadi daerah pondokan, karena udara yang sejuk dan pemandangan yang indah. Hanya saja bangsa kita tidak pernah berhubungan langsung dengan orang-orang Islandia. Jadi rasanya tidak mungkin kata Gisting diambil dari bahasa Islandia.

Saya sempat curiga, nama ini berasal dari Belanda. Seperti kita ketahu “bangsa Londo” ini cukup lama mengusai negeri ini. Kemudian Belanda mengambil kata Gisting dan menggunkan akta ini untuk nama desa. Maklum, ada desa tetangga bernama Lambau (Lambaow). Ada kata dalam bahasa Belanda “landbouw” yang berarti daerah pertanian. Sangat mungkin saat itu orang Belanda banyak tinggal di daerah Tanjung Karang mendapat suplai sayur-mayur dari daerah ini. Maklum saja, daerah ini berudara sejuk dengan curah hujan yang banyak, cocok untuk sayur-mayur yang biasa tumbuh di negeri Belanda sana.

Kemungkinan yang lain (masih di jaman Belanda), karena daerah ini berudara sejuk digunakan orang-orang Belanda untuk beristirahat atau berlibur. Sudah jelas, pusat keramaian dan pemerintahan ada di Tanjung Karang dan Teluk Betung. Secara otamatis banyak sekali orang Belanda di kawasan ini. Kawasan ini berada di dataran rendah dan sisi kota berbatasan langsung dengan laut. Sudah pasti udaranya panas sekali. Biasanya kalau udara panas sekali, membuat orang cepat stress. Nah, untuk menghilangkan stress ini, para Belanda itu berlibur ke daerah dingin di lereng gunung Tanggamus ini. Mereka tinggal di derah ini selama beberapa hari sampai stressnya hilang. Masa liburnya selesai. Setelah itu mereka kembali bekerja lagi di Tanjung Karang atau Teluk Betung dan sekitarnya. Nah, di sini (mungkin) kuncinya. Selama mereka berlibur ini mereka menyebut diri mereka di “fermentasi” dan diolah, sehingga setelah itu didapatkan “sesuatu yang baru”, “segar”, “dan harum”. Enak untuk dipakai untuk bekerja kembali. Sama seperti anggur, setelah fermentasi enak buat bersenang-senang. Kalau yang ini setelah “difermatasi” enak untuk bekerja.

Fakta yang mungkin mendukung teori daerah ini sebagai tempat istirahat orang Belanda adalah ada beberapa peninggalan berupa puing-puing bangun. Sewaktu saya kecil di kebun apel antara Blok 11 dan Blok 13 ada bekas-bekas tempok setinggi satu meteran. Dugaan saya, tembok ini bekas rumah. Waktu itu kami anak-anak sering memukul tembok atau pecahan tembok yang cukup keras dengan batu. Jika beruntung kami bisa menemukan kelereng warna dan motifnya mirip telur burung puyuh. Kelerang ini kami subur dengan kelereng gambir.

Peninggalan yang lain, di belakang rumah seorang warga (mBokde Rebet ?) di Blok 22, ada bekas lantai yang cukup luas. Pemilik rumah sering menggunakan lantai ini untuk menjemur kopi. Terus ke belakang menjauhi rumah ada sumur besar. Menurut dugaan saya sumur dibuat bersamaan dengan pembuatan lantai, dan sumur ini sumber air untuk pemiliki rumah. Model lantai dan dinding bibir sumur mirip sekali dengan lantai belakang rumah tadi. Pernah saya tanyakan kepada pemiliki rumah tentang asal-usul lantai dan sumur tersebut. Pemilik rumahpun tidak tahu sama sekali cerita lantai dan sumur tersebut.

Berikutnya, Belanda senang dengan main air. Coba tengok di daerah yang sekarang disebut Dam. Di sini ada sungai jernih yang (kemungkinan) besar dibendung oleh Belanda. Tujuan yang utama pasti untuk pertanian dan tujuan ke dua untuk rekreasi. Satu lagi dam dibuat di sungai Grem (mungkin ini juga dari bahasa Belanda) yang bisa diakses dari jalan Blok 13 dan Blok 15. Dam terdiri dari dua tingkat. Di bagian bawah dam kedua, sewaktu saya kecil ada bekas kincir air digunakan untuk menumbuk padi atau beras. Saluran airnya masih dilalui air. Sederet blok semen dan beberapa lubang lumpang masih ada. Hanya itu yang tersisa.

1.    Pada tahun 1924

Oleh I.E.V (Indo Eroupeese Vereneging) / Indo Belanda,  mengajukan permohonan kepada Pemerintahan Belanda melalui Volkksaad (kalau di negara Indonesia sekarang sama dengan DPR) untuk dapat diberikan areal tanah untuk pertanian  .

Oleh Pemerintahan Belanda mereka diberikan areal tanah yang dapat dikembangkan untuk pertanian dan perkebunan kopi, dan hal ini diberikan kepada anggota-anggota I.E.V yang akan menjalankan pensiun, yakni di Dearah Gisting yang terlatak di kaki gunung/lereng gunung Tanggamus, termasuk Marga Talangpadang  Onderdistrik  Kota Agung. Dan oleh kolonisasi  khusus untuk anggota-anggota IEV diberikan areal tanah sebanyak 46 persil, yang meliputi kampung Campang, Landbau, Gisting Atas, Gisting Bawah. Sedangkan Desa Gisting Bawah yang sekarang ini terdiri dari 13 persil, yaitu persil 1 sampai dengan 12 dan persil 33.

Pada tahun 1924 itu juga para anggota IEV membuka hutan untuk pertanian dan perkebunan kopi, yang dipimpin oleh  Tuan Smideh dan setiap persil  dikepalai oleh seorang Belanda dengan mempunyai daerah yang telah ditentukan.

Setiap  persil di bangun sanggar sebagai tempat tinggal Pimpinan Persil, dan untuk tempat tinggal tenaga kerja (kuli) rata-rata 50 orang, yang didatangkan dari luar daerah yang bersifat kontrak dan hasil kopi dari setiap persil disetorkan menjadi satu digudang/pabrik (tempat tersebut sekarang menjadi Mess Ringgit ).

Untuk anggota IEV  yang kurang mampu (miskin) ditempatkan menjadi satu di landbau untuk menanam sayur mayur  dan disamping itu juga didaerah Gisting telah dibangun beberapa gedung /sanggar baik untuk tempat tinggal  maupun tempat istirahat Bangsa Belanda.

2.    Pada tahun 1942

Peristiwa ini cukup penting bagi Bangsa Indonesia , dimana Bangsa Jepang dapat menaklukan  Bangsa Belanda, khususnya dinegara Indonesia maka semua harta kekayaan peninggalan Belanda beralih ditangan Bangsa Jepang, menjadi saudara tua dari Bangsa Indonesia.

Pada akhirnya Jepang menjadi panjajah Bangsa Indonesia  yang kejam dan terkutuk serta murtat kepada apa yang pernah dijanjikan. Oleh pemerintahan Jepang, di Gisting  didirikan kantor yang bernama DAITOKO dipimpin oleh Tuan Tanaka, dan sebagian dari kebun kopi dirombak dan diganti tanaman sayur mayur dan lain-lain

Masa penjajahan Jepang tidak berumur panjang, Jepang menyerah kepada sekutu dan terpaksa melepaskan hak kekuasaan termasuk Negara Indonesia yang kita cintai bersama ini, dan peristiwa ini terjadi pada tahun 1945

Sehubungan dengan peristiwa diatas, kesempatan ini juga digunakan oleh Bangsa Indonesia, merebut kekuasaan dari kaum penjajah dan pemproklamirkan kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia yang merdeka.

3.    Pada tahun  1946

Oleh masyarakat yang bertempat tinggal di Gisting, membentuk Pemerintahan Tingkat Desa ,yang dipimpin oleh Bapak Kasan Tembel dan Bapak Kasan Tembel menjadi Kepala desa Gisting yang pertama.

Pada tahun 1947, datanglah BPP dari Palembang yang dipimpin oleh Bapak Karto, untuk mengusahakan tanah sebagai tempat tinggal untuk bertani dan berkebun.

4.    Pada tahun 1948 

Oleh masyarakat tersebut terjadilah REVOLUSI FISIK antara Indonesia dengan Belanda, yang ingin berkuasa kembali di Indonesia maka dengan terjadinya perang tersebut, semua gedung dan bangunan Belanda habis dibakar oleh pemuda-pemuda indonesia yang berada di Gisting,yang akhirnya Belanda tidak dapat bertahan di Indonesia.

5.    Pada tahun 1952

Didatangkanlah anggota-anggota CTN untuk dimasyarakatkan dan diasramakan di sekitar Kali Tebu dengan tujuan agar anggota-anggota tersebut dapat bertani dan ini merupakan penambahan jumlah penduduk secara masal dan kedua kalinya. Perlu menjadi catatan penting bagi masyarakat Desa Gisting Bawah dan sekitarnya, bahwa pada saat Bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan, Gisting juga dijadikan tempat latihan kemiliteran baik yang dilatih oleh Jepang maupun oleh Putra-Putra Indonesia sendiri, serta Gisting dijadikan tempat pertemuan -pertemuan  oleh para pimpinan Gerilya kita, yang dipimpin oleh Bapak Kapten Alamsyah Ratu Prawira Negara, maka dalam hal ini tidak heran jika Gisting juga dijadikan sasaran perang baik oleh Bangsa Belanda  maupun Bangsa Jepang, sehingga Desa Gisting juga terdapat para pahlawan yang gugur dimedan laga, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

B.  TERBENTUKNYA DESA SEJAK TAHUN 1946

Sesuai dengan struktur pemerintahan waktu itu ,maka kedudukan kampung mulai disempurnakan menurut kebutuhan dan sebagai mana mestinya,maka susunan dan pejabat Kepala Desa dari tahun tersebut sampai tahun 1997 adalah sebagai berikut:

1.    Tahun 1946 s/d tahun 1952 adalah Bapak Kasan Tembel (Almarhum)

2.    Tahun 1952 s/d tahun 1953 adalah Bapak Rasiman (Almarhum)

3.    Tahun 1953 s/d tahun 1957 adalah Bapak Jayusman (Almarhum)

4.    Tahun 1957 s/d tahun 1968 adalah Bapak Kasrab (Almarhum)

5.    Tahun 1968 s/d tahun 1972 adalah Bapak Simad (ALmarhum)

6.    Tahun 1972 s/d tahun 1987 adalah Bapak Muhd. Yanin. (ALmarhum)

7.    Tahun 1987 s/d tahun 2006 adalah Bapak Jaimin S.

8.    Tahun 2006 s/d tahun 2012 adalah Bapak Triono

9.    Tahun 2012 s/d sekarang adalah Bapak Sapari

C.    PERKEMBANGAN DESA GISTING DALAM BIDANG PEMERINTAHAN DARI TAHUN 1946

1.   Pada tahun 1946 terbentuklah pemerintahan tingkat Desa Campang, Gisting bawah dan Gisting atas, pejabat  Kepala  Desa adalah Bapak Kasan Tembel sampai dengan tahun 1952.

2. Pada tahun 1952 pergantian pejabat Kepala Desa dari Bapak Kasan Tembel digantikan oleh Bapak Rasiman sampai dengan tahun 1953 yang daerahnya tidak berubah seperti tersebut diatas.

3. Pada tahun 1953 Bapak Rasiman digantikan oleh Bapak Jayusman sampai tahun 1957.

4. Pada tahun 1957 Bapak Jayusman digantikan oleh Bapak Kasrab sampai dengan tahun 1986.

5.     Pada tahun 1957 Bapak Kasrab digantikan oleh Bapak Simad.

6. Mengingat Desa Gisting daerahnya sangat luas dan juga perkembangan penduduk selalu meningkat,maka pada tahun 1971 Desa Gisting dimekarkan menjadi dua Kepala Desa yakni Desa Campang  berkedudukan di Campang, dan Desa Gisting berkedudukan di Gisting,Daerahnya meliputi Desa Gisting Bawah sampai dengan sekarang.

7.    Pada tahun 1972, Desa Gisting dimekarkan lagi menjadi dua desa yakni Desa Gisting atas yang berkududukan di Gisting atas dan  Desa Gisting bawah yang berkedudukan di Gisting bawah.

8.  Pada tahun 1972 Bapak Simad digantikan oleh Bapak Muhd.Yanin sampai dengan 1987 dan wilayah tidak ada Perubahan.

Pada tahun 1987 Bapak Muhd.Yanin digantikan oleh Bapak Jaimin S. Terjadi perubahan wilayah   (Desa Gisting Menaji 3 yakni : Gisting Atas, Gisting Bawah dan Campang )

Pada tahun 2006 Bapak Jamin.S  digantikan oleh Bapah Triono, Terjadi perubahan Wilayah   (Pekon Gisting Bawah Mekar Menjadi 3 Pekon Yakni : Gisting Bawah, Lanbaw dan Sidokaton )

Untuk memudahkan pengurusan dan melancarkan jalannya roda pemerintahan Desa maka Desa Gisting Bawah dibagi menjadi 7 Dusun yakni :

1.    Dusun  1.A,  Kepala Dusun Akrom

2.    Dusun  1.B,  Kepala Dusun Suradi

3.    Dusun  2.A,  Kepala Dusun Sumiatun

4.    Dusun  2.B,  Kepala Dusun Tukiman

5.    Dusun  3,  Kepala Dusun Zaini

6.    Dusun  4,  Kepala Dusun Rohmat

7.    Dusun  5,  Kepala Dusun Supriadi

 

 

Demikian sejarah singkat terbentuknya serta perkembangan Desa Gisting Bawah, berdasarkan keterangan dari tokoh-tokoh dan sesepuh Desa serta data-data yang ada.

 

Sekilas Tentang Gisting Bawah

Gisting adalah nama sebuah desa, desa besar, yang sekarang telah mekar menjadi 5 desa, yaitu desa Gisting Permai, Gisting Atas, Gisting Bawah, Lambau  (aslinya Landsbouw) dan Campang. Jangan-jangan tidak ada desa lain di seluruh Nusantara yang bernama Gisting, yan sekarang sudah berkembang menjadi satu kecamatan. Ditinjau dari letak, cuaca, lingkungan alam dan sosialnya kayanya tempat ini memiliki kepantasan  di sebut senagai a worth visiting ressort/suatu tempat yang pantas buat di kunjungi buat mereka yang ingin melepaskan diri sejenak dari  kesibukan dan panasnya kehidupan kota. Agar jelasnya baiklah dipaparkan sedikit tentang Gisting dan inilah konon ceritanya.

Gisting yang terletak pada ketinggian sekitar 600 meter lebih dari permukaan laut berada di lereng gunung Tanggamus yang puncaknya setinggi 1900 meter di atas permukaan laut dengan suhu sekitar 18o C pada waktu malam, menyimpan sejarah yang unik. Gisting pertama kali dibuka pada tahun 1932 oleh sekelompok orang swasta Belanda yang tergabung dalan “Indo Eerropeesche Vereniging” atau “Perkumpulan Orang-orang Indonesia / Keturunan Eropa”.Mereka mendapat izin/konsesi tanah dari pemerintahan Hindia Belanda dan mungkin juga kredit Bank untuk membuka perkebunan kopi di Gisting ini. Nama Gisting konon di ambil dari nama sebuah kota kecil/desa di perbatasan Belanda dan Jerman. Sebagian dari nama tuan-tuan pemilik kebun masih melekat sebagai nama-nama tempat di Gisting sekarang ini seperti blok Grim, Dusun Bruikmeyer, Desa Landsbouw (kantor konsultan perkebunan), nama orang seperti tuan Khloer, Pak De Youngg, dll. Penduduk pertama Gisting masa itu adalah orang Belanda tuan-tuan perkebunan beserta keluarganya dan para pekerja mereka yang sebagian terbesar berasal dari pulau Jawa. Kemudian penduduk asli Lampung dari daerah Putihdoh/Cukuh Balak masuk dari pinggiran pantai membuka kebun, sawah dan membangun pemukiman di daerah Gisting. Anak cucu mereka merupakan mayoritas penduduk pekon-pekon Kutadalom, Banjarmanis, Bajarnegri dll.

 

Ketika pada tahun 1942 pemerintah hindia Belanda bertekuk lutut menyerah tapa syarat kepada balatentara jepang di bawah pimpinan Jendral Imamura, semua tuan-tuan kebun kopi yang ada di Gisting di tanggkap dan ditawan dan tidak pernah kembali ke Gisting sesudah Jepang menyerah kepada sekutu; Kecuali satu keluarga keturunan jerman yang tidak di tangkap oleh Jepang karena Jerman merupakan sekutu Jepang. Bagaimana nasib Gisting ?

Sama halnya dengan seluruh Indonesia, tentu saja Gisting jatuh ke tangan Jepang.

 

Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 dan berdirilah Negara Republik Indonesi pada tanggal 17 Agustus 1945. Menteri Sosial RI yang pertama membentuk badan yang bernama Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang tugasnya mengurusi a.l orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang dan bekas Romusha yaitu orang Indonesia, terutama orang Jawa yang kena wajib kerja paksa, kerja sangat berat tanpa upah, tanpa jaminan makan dan kesehatan semestinya. Jawatan Sosial Provinsi / BPKKP Sumatera Selatan waktu itu mengirimkan serombongan bekas Romusha yang berasal dari Jawa untuk di kembalikan ke kampung halaman mereka. Setibanya di Lampung rombongan eks Romusha yang dengan pakaian compang-camping serta kondisi kesehatan mereka yang sangat menyedihkan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa untuk sementara di istirahatkan di Gisting. Banyak di antara mereka yang enggan pulang ke Jawa dan ingin menetap di Gisting. Kepada mereka, pemerintah memberi modal tanah garapan a.l bekas kebun kopi milik Belanda yang sudah ditinggalkan. Mereka ini, menamakan dirinya orang BPKKP merupakan rombongan kedua asal muasal penduduk Gisting.

 

Sesuai perang kemerdekaan 1945-1949 pemerintah RI mempertimbangkan bahwa jumlah anggota TNI yang telah berperang selama hampir 5 tahun di anggap terlalu banyak dan harus dikurangi. Tindakan pengurangan jumlah TNI ini terkenal dengan istilah Rasionalisasi. Mereka yang terkea Rasionalisasi ini dikeluarkan dari TNI dan disatukan dalam pasukan Corps Cadangan Nasional (CTN). Mereka direkrut, dibekali keterampilan, peralatan, tanah garapan, peminaan dan masih di gaji selama 2 tahun, untuk menjadi petani-petani yang handal di luar Pulau Jawa. Di antara mereka ini 1 Batalion CTN dari Kodam Brawijaya Jawa Timur dikirim untuk bekarya dan menetap di Gisting. Seiring perjalanan waktu setelah beberapa tahun sebagian dari mereka meninggalkan Gisting dan sebagian yang lainnya tinggal menetap dan beranak-pinak di Gisting ini. Mereka ini merupakan rombongan ketiga asal mula penduduk Gisting.

 

Pribahasa mengatakan “ada gula ada semut” maka Gisting yang manis ini menarik banyak orang dari mana-mana, dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumtera Barat, dll. Mereka berdatangan untuk menetap di Gisting. Dalam waktu sekitar dua decade sampai tahun 1970 Gisting telah mulai berkembang menjadi kawasan yang maju, dinamik, ilmiah, indah, nyaman, ramah, aman, damai, dan makmur.

 

Bagaimana Gisting hari ini ? Gisting yang meliputi area sekitar km persegi dengan penduduk kurang lebih ribu orang, dibelah oleh jalan raya menanjak menuju ke Kota Agung terus ke Krui dan Bengkulu. Di sebelah kanan dan kiri jalan sepanjang 3 km lebih sebagian besar rumah-rumah penduduk telah berubah menjadi tempat usaha warung makan, toko, kios, salon, counter, bengkel, hotel, bank, pasar, ini adalah pertanda pertumbuhan kegiatan ekonomi masyarakat yang baik. Sekolah-sekolah dari SD sampai ke SLTA-SMA, MA semuanya swasta dengan gedung-gedung yang baik berkembangan dengan memadai. Puluhan masjid dan mushola diseling gereja-gereja ada di mana-mana. Rumah-rumah penduduk dengan model masa kini berjejer di kiri kanan jalan-jalan kampung yang beraspal mulus.

 

Apa yang pantas disuguhkan oleh Gisting kepada para tamu wisata ?

Udara yang segar dan nyaman. Suasana yang tenang dan damai. Alam yang hijau segar, pemandangan Gunung Tanggamus di waktu pagi yang menawan. Hotel-hotel “Gisting Hotel, VIP Hotel, Hotel 21, Hotel Hosana” yang cukup representativ. Kolam renang standar bagi para perenang. Lapangan footsal di mana-mana. Tempat santap sederhana yang nyaman di sepanjang jalan yang siap melayani anda dari jam 07.00 pagi sampai jam 00.00 malam. Pada setiap malam minggu akhir bulan anda bisa menyanyi dan menikmati lagu-lagu keroncong bersama Komunitas Keroncong Gisting. Kepada rombongan yang berminat bisa menyaksikan pertunjukan Reog Ponorogo dan Kuda Kepang dengan memesan seminggu sebelumnya. Bagi mereka yang hoby memancing tersedia kolam-kolam pemancingan di sekitar hotel, dan bagi putera-puteri anda tersedia tempat rekreasi dan hiburan air, kolam bola, perahu karet, cycling boat, dll. Di danau buatan WATER VAN DE BERG DAM (DAM : Air dari Gunung, dalam bahasa Belanda ),300 meter dari hotel anda. Demikianlah, semoga anda tertarik dan mencoba mengunjunginya.